
BUANAINDONESIA, BANDUNG – Seniman yang ada di kota Bandung mengeluhkan penilaian masyarakat yang masih rendah dalam dalam mengapresiasi para pekerja seni ini . Masyarakat masih saja ada yang menganggap para seniman tradisi bisa dibayar alakadarnya saat manggung. Ini menandakan tergerusnya nilai-nilai rasa menghargai seni tradisional yang ada di masyarakat.
Didit, salah seorang pekerja seni dari sanggar seni Layung Kencana Asuhan pimpinan Yogi Gautama mengatakan ironisnya, masyarakat juga banyak yang menganggap seni tradisi itu seni yang bisa dibayar alakadarnya. Banyak dari awan juga tidak memahami apa arti dari sebuah proses sebuah karya seni
” Dalam membuat suatu karya seni membutuhkan sebuah proses yang panjang sekali. Karena sangat panjangnya, kita kadang terkendala pada sebuah budget. ya maaf ya, mereka ( masyarakat ), ya terkadang menghargainya sangat minim, ” kata Didit
Sementara itu, Yanyan, juga dari Layung Kencana menambahkan Ironisnya, tak hanya datang masyarakat awam yang kurang apresiatif pada seni tradisi ini, kondisi ini diperparah dengan kurangnya apresiasi dari pihak-pihak yang sering bersentuhan dengan seni tradisi dan seni seperti event organizer
” Kurang penghargaan dari event organizer, sering kami alami, ” kaya Yanyan
Keresahan juga ternyata tidak menyasar seniman tradisi. Hal yang sama juga dialami Fitri, make up artis seniman tradisi .
” Make up artist seharusnya tidak dipandang sebelah mata. Menjadi make up artist membutuhkan ilmu, ” kata dia
Tak hanya seniman tradisi, seniman lukis di kota Bandung inipun mengeluhkan hal yang sama
Ratman DS, seniman lukis senior kota Bandung mengatakan minimnya ruang pamer karya para seniman lukis, menjadikan para seniman merasa disisihkan oleh pemerintah.
” Kalau difasilitasi, ya jelas kita tidak terfasilitasi, ya mungkin uangnya habis duluan sebelum dipakai untuk memfasilitisi kami. Kami sebenarnya tidak terlalu banyak nuntut untuk difasilitisi, tapi ya, sedikit saja perhatian, ” kata Ratman
Nasib para seniman, khususnya seni lukis di kota Bandung seperti hidup segan, mati tak mau. Tak sedikit dari mereka untuk makan saja sulit. selain tempat pamer dan even pameran yang minim, bisa jadi menjadi salah satu faktor lesunya karya karya dari para seniman. Sekalipun ada pameran, para seniman harus merogoh kocek dalam agar bisa menggelar pameran di even-even tertentu. Tak ayal, kondisi seperti ini menambah beban persoalan yang menimpa seniman lukis kota Bandung seperti Ratman.










