Maraknya Wisatawan yang Menjadi Korban Alam, Ini Menurut Para Ahli

21.823 dibaca
Kepala Diskominfo Nurdin Yana, memandang gencarnya media sosial mempromosikan lokasi wisata membuat tempat itu sering dikunjungi, Rabu, 21 Maret 2018. ( BUANA INDONESIA NETWORK/ Deden Solihin ).

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT –
Kepala Diskominfo Nurdin Yana, memandang gencarnya media sosial mempromosikan lokasi wisata membuat tempat itu sering dikunjungi, namun belum terpikirkan dari sisi pengelolaan yang terintegrasi, seperti ekonomi, sosial dan jaminan keamanan, Rabu, 21 Maret 2018.

Advertisement

Diskominfo sendiri memberi ruang yang lebar, namun harus diperhatikan juga dari sisi dampak informasi yang dihasilkan dari para pengelola medsos atau media-media lainnya yang memiliki keinginan mengangkat potensi daerahnya.

“Bagaimana keterlibatan perusahaan lain, semisal perhutani dalam mem-back up daerah yang jadi wisata dadakan ini. Bagaimana pula peran pemerhati atau penggiat sosial dan lingkungan mengguide masyarakat agar haknya tidak terampas dalam mengeksplore alam, namun juga tidak mengabaikan sisi keamanan bahkan sisi kelestariannya,” ungkap Nurdin.

Nurdin menambahkan, penting bagi semua pihak untuk duduk bersama membicarakan dan mereaktualisasikan bagaimana mengelola potensi, namun tidak berdampak antipati berujung korban lanjutan.

Menurut Ketua FK3I, Mia Kurnia, meski sudah tertuang dalam Perda tentang Tata Ruang, Kabupaten Garut ditopang oleh agroindusri, kelautan dan pariwisata dengan wilayah 81,6% merupakan kawasan konservasi.

“Ibarat pisau bersisi dua, bisa merupakan berkah bisa juga bencana yang datang apabila tidak terkelola dengan manajemen yang baik, yang seharusnya bisa melindungi seluruh lapisan masyarakat,” kata Mia menanggapi kejadian yang menimpa para wisatawan lokal yang menjadi korban.

Sementara itu penggiat medsos ‘Garut Turunan Kidul’, Hartas Puji Firja (26 tahun) mengingatkan komunitas penggiat medsos untuk senantiasa mempertimbangkan dalam memposting gambar maupun visual. Hartas menyarankan, disamping memposting, perlu disisipi informasi edukatif ke masyarakat.

“Para wisatawan harus banyak bertanya kepada masyarakat sekitar mengenai kondisi curug, dari mulai kondisi arus, akses, sampai pantangan yang dilakukan di kawasan tersebut,” imbuhnya.

Tambah Hartas, hindari juga wilayah-wilayah yang beresiko tinggi, apalagi di wilayah tersebut tidak ada pengelolaannya yang profesional. Perhatikan juga cuaca di wilayah hulu gunungnya, apabila di wilayah hulu tersebut mendung (awannya hitam), untuk segera menghindar aliran sungai.

“Jangan sepelekan pantangan yang diucapkan masyarakat sekitar curug. Jangan juga terlena sama kolam curug yang tenang, karena pasti dalam,” pungkas Hartas.

Editor : NA

G007