BUANAJABAR.COM,BANDUNG – Dilarangnya penggunaan bahan styrofoam yang mengandung bahan kimia oleh pemkot Bandung 1 november 2016, membuat sebuah perusahaan kemasan Foopak mengadakan pengemasan sehat untuk pangan (food safety packaging). Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan dilibatkan dalam kampanye itu. LIPI sendiri merilis, kemasan yang banyak digunakan saat ini ( selain Styrofoam ) pun tak kalah bahayanya untuk kesehatan manusia.
Namun LIPI dalam risetnya menunjukkan bahwa kemasan pangan berbahan dasar kertas yang paling lazim digunakan di Indonesia, ternyata masih banyak yang belum layak untuk dijadikan sebagai kemasan pangan primer. Masih banyak ditemukan penggunaan kertas koran, kertas bekas cetakan, atau kertas daur ulang sebagai kemasan nasi kotak, nasi bungkus, gorengan dan kotak martabak.

LIPI merilis, ternyata jumlah bakteri yang terkandung dalam kertas pangan daur ulang mencapai sekitar 1,5 juta koloni per gram. Sedangkan, rata-rata kertas nasi yang umum digunakan beratnya 70 – 100 gram, itu artinya ada sebanyak 105 juta – 150 juta bakteri yang terdapat di kertas tersebut.
“ Kandungan mikroorganisme di kertas daur ulang memiliki nilai tertinggi dibandingkan jenis kertas lainnya, ini melebihi batas yang ditentukan,” ujar Lisman Surya Negara, Peneliti Biomaterial LIPI.
Sementara menurut Atul Tyagi,
Technical Expert Foopak mengatakan, zat-zat kimia tersebut berdampak negatif terhadap tubuh manusia
” Dapat memicu berbagai penyakit seperti kanker, kerusakan hati, kelenjar getah bening, mengganggu sistem endokrin, gangguan reproduksi, meningkatkan risiko asma dan mutasi gen, ” ujarnya










