BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Kerajinan kulit dari Sukaregang memang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Namanya sudah dikenal dari tingkat lokal, bahkan sampai ke tingkat Internasional. Namun beberapa bulan terakhir ini, mereka sempat digoyahkan dengan melonjaknya harga bahan baku pembuatan kulit, seperti garam dan obat kimia.
Walau begitu, tidak lantas membuat para pengrajin memilih menggunakan bahan baku yang diimport, tetapi mereka tetap lebih mengutamakan bahan baku dari dalam negeri.
“Bahan baku kulit dari dalam negeri lebih bagus kualitasnya daripada yang diimport dari luar. Waktu itu pernah ada yang menawari kami bahan kulit dari luar, akan tetapi kami tidak mengambilnya, walau harganya jauh relatif lebih murah. Kami lebih memilih bahan baku dari dalam negeri,” tutur Iwan, seorang Marketing di salah satu perusahaan penyamak kulit di Sukaregang, Kamis, 8 Februari 2018.
Untuk bahan baku kulit dalam negeri memang masih bisa memenuhi kebutuhan produksi para pengrajin, sehingga mereka tidak perlu memilih untuk mengimport dari luar.
Namun untuk beberapa bahan baku lainya seperti garam dan obat kimia, mereka terpaksa masih harus mengimport dari luar. Hal ini disebabkan kelangkaan garam di dalam negeri, dan menyebabkan naiknya harga garam yang mencapai 400%.
“Untuk bahan baku seperti obat kimia dan garam, memang kita masih mengimport dari luar negeri, dikarenakan memang di tingkat lokal belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut untuk produksi,” lanjut Iwan.

Para pengrajin penyamak kulit di Sukaregang masih tetap akan memilih bahan baku kulit dalam negeri, akan tetapi untuk bahan baku yang lain seperti garam dan obat kimia, para pengrajin sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah.
“Kami berharap pemerintah untuk mengurangi import bahan baku mentah dari luar negeri. Yang kami butuhkan regulasi import bahan kimianya” pungkas Iwan.
Penulis: Syifa Nur Aida
Editor: NA










