BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Pernyataan beberapa tokoh parpol tentang peta politik Jabar ditangkap dan dipublikasi sejumlah media massa. Kebanyakan dari mereka menyatakan peta politik Pilkada Jabar yang masih terbilang cair. Dari pernyataan-pernyataan ini masih menggambarkan tangan-tangan elit politik tingkat pusat masih dominan di perpolitikan Jawa Barat.
Pernyataan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menyatakan polarisasi terhadap satu dua calon belum terjadi ini dianggap sebagai potret dominasi itu
“Konstelasinya masih sangat cair. Belum terjadi polarisasi yang menguat dukungan parpol terhadap satu dua calon,” katanya pada 1 september 2017 lalu
Sementara itu secara terpisah oleh ketua DPW Jabar Partai Demokrat, Iwan Sulandjana menyatakan koalisi Poros Baru politik Jabar akan segera dikukuhkan
” Insya Allah besok ( Jumat, 8 September 2017 ) Demokrat, PPP dan PAN akan menandatangani ( nota kesepahaman ) koalisi poros baru, ” kata Iwan, Kamis, 7 September 2017.
Poros baru ini diharap bisa menjawab tanya warga Jabar soal dominasi elit dan mengakomodir aspirasi warga Jabar
Menilai ini, Dr Yusuf Hermawan, peneliti dan analis politik dari Lembaga Kajian Aliansi Masyarakat untuk HAM, Demokrasi dan Keadilan Hukum ( Amandemen ) menyatakan, jauh – jauh sebelum ramai diberitakan pihaknya sudah membaca adanya tanda – tanda terbentuknya poros baru
” Kita tidak kaget ya ( Jika ada poros baru ) Sejak akhir Juli kemarin kita rilis ke teman – teman media soal ini. Analisa kami diperkuat dengan PKB yang kemudian pada bulan Agustus memberi panggung pada semua figur yang banyak disebut akan maju dalam kontestasi Pilgub Jabar 2018. Ada RK ( Ridwan Kamil ), Deddy Mulyadi, Agung Suryamal dan Uu Ruzhanul Ulum . PKB saat itu sudah memberikan sinyal untuk memberi ruang lebih besar pada para kandidat. Namun ada yang menjadi catatan penting bagi kami. Keseluruhan kandidat merupakan pituin Jawa Barat. Asli putra daerah Jawa Barat. Ini penting membuktikan pada publik dan calon pemilih bahwa Jawa Barat juga punya putra – putra terbaik yang siap mengabdi untuk kemajuan daerahnya. Hanya kita sesalkan ya jika ada kepentingan politik pusat yang dinilai terlalu intervensi. Saran kami pusat jangan terlalu kental campuri urusan Jawa Barat. Aspirasi masyarakat Jawa Barat harus juga diakomodir, ” kata Yusuf dalam rilis yang diterima redaksi, Kamis, 7 September 201
Lebih lanjut Yusuf menyatakan saat ini poros baru diharap bisa menjadi alternatif yang aspiratif bagi suara warga Jabar
” Tinggal buktikan, poros baru ini bisa aspiratif atau tidak. Kepentingan Jakarta kental tidak disana. Kalau masih saja kental, ya berarti sama saja dengan 2 poros lain. Hanya bedanya memecah opini saja, ” ujar Yusuf
Ditanya soal 3 figur ( Dedi Mizwar, Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi ) yang kini masih mendominasi wacana kandidat Pilgub Jabar, Yusuf menjawab bahwa semua figur itu juga belum pasti
” Memang putra asli daerah Jabar itu hanya 3 figur itu? Kan tidak. Putra daerah yang sanggup memimpin Jabar bukan hanya mereka. Itu mengapa kami mendorong kepermukaan sebanyak – sebanyaknya figur yang memang punya kompetensi memimpin Jabar. Kriteria utama kan figur clear and clean, tidak memiliki resistensi terhadap kelompok manapun, sudah berbuat. lalu kriteria nyunda, nyakola, nyantri. Sosok ‘ pituin ‘ juga banyak diharapkan oleh warga Jabar. Berpengalaman gak harus juga birokrat kan ?. Baik untuk Jabar juga gak harus populer kan?, ” kata Yusuf.










