Provokasi Adu Domba Dimata Islam

6.152 dibaca
Asep S Muhtadi
Asep S Muhtadi
Asep S Muhtadi

Dalam al-Qur’an surah Ali Imrah ayat 98-99 Allah menyeru, “Katakanlah: Hai Ahli Kitab, mengapa kamu inkar ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?”

“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?’ Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan”

Advertisement

Dalam Tafsir UII (Jilid II, 1995: 11-12) dijelaskan bahwa ayat ini diturunkan seiring adanya peristiwa masuknya seorang Yahudi muda ke tengah para shahabat yang sedang akrab berbincang, berkumpul penuh cinta kasih.

Dikisahkan seseorang bernama Syās bin Qais yang selalu menyerang dan menistakan agama Islam, lewat di hadapan beberapa orang shahabat Rasululah yang terdiri dari Kabilah ‘Aus dan Hazraj. Mereka sedang duduk bersama-sama membicarakan beberapa persoalan. Syās melihat para shahabat itu begitu akrab berbincang, tidak memperlihatkan sedikit pun ada masalah yang dihadapi mereka.

Keadaan seperti ini sangat menjengkelkan Syās. Ia tidak senang kalau melihat kaum muslimin terlihat begitu kuat memelihara ukhuwah, menjalin persatuan yang kokoh yang diikat dalam kebersamaan yang penuh cinta kasih. Padahal, seperti dikenal dalam sejarah, dua kabilah ‘Aus dan Hazraj ini, merupakan dua kabilah yang selalu bertengkar, dua pihak yang selalu berkonflik. Syās pun berguman dalam hatinya,

“Demi Allah aku tidak akan membiarkan mereka begitu kuat menjalin persatuan, aku tidak akan merasa nyaman melihat mereka mempunyai pesatuan yang kokoh itu”.

Akal busuk Syās pun mulai bekerja. Kebetulan saat itu ada di sampingnya seorang pemuda Yahudi. Disuruhnya anak muda Yahudi itu untuk ikut duduk bersama shahabat-shahabat Rasulullah itu, dan membisikkan isu-isu yang dapat memicu amarah mereka. Anak muda itu mulai menghasut, membuka-buka luka lama yang pernah terjadi antara dua kabilah itu. Diungkapnyalah peristiwa perang Bu’ās yang pernah terjadi antara kaum ‘Aus dan Khazraj itu. Bukan hanya itu, pemuda Yahudi itu mulai membisikan bebera bait syair peperangan yang pernah diucapkan terkait perang Bu’ās itu.

Hasutan pemuda Yahudi itu mulai berhasil menggesek kesadaran dan luka lama yang pernah dialami oleh kedua kaum ‘Aus dan Khazraj. Akhirnya timbullah ketegangan di antara para shahabat Nabi yang tengah akrab bercengkrama itu. Tidak tanggung-tanggung, masing-masing mengangkat perwakilan untuk mempertajam pertentangan. ‘Aus bin Qaizi seorang pemuda gagah dari kalangan Bani ‘Aus dan Jabbar bin Sakhr dari kalangan Khazraj. Masing-masing saling melempar kata-kata yang menyakitkan yang dapat menyulut emosi kedua belah pihak.

Puncaknya, seseorang di antara mereka yang emosinya sudah semakin panas terbakar mengucapkan sebuah ajakan provokatif: “Kalau kalian mau, marilah kita hidupkan kembali peperangan itu”. Ia mengajak untuk bertempur kembali. Demikian pula kabilah yang satunya lagi pun semakin emosi dan meneriakkan,

“Marilah kita besiap untuk membawa senjata masing-masing”. Lalu kedua belah pihak bersepakat untuk bertempur di suatu tempat bernama Azzahirah di luar Kota Madinah.

Beruntung berita itu segera sampai ke telinga Rasulullah. Ketika kedua kaum ‘Aus dan Khazraj itu telah saling berhadapan dan siap bertempuar seperti layaknya dilakukan pada masa Jahiliyah, datanglah Rasulullah yang didampingi oleh beberapa orang Muhajirin. Rasulullah pun menyeru: “Hai kaum Muslimin, kenapa kalian menhucapkan kata-kata di antara sesama kamu ucapan-ucapan di masa Jahiliyah, padahal aku berada di tengah-tengah kamu? Kalian sudah mendapat petunjuk Allah untuk menganut Islam dan Allah pun telah memuliakan kalian dengan agama itu, memutuskan kalian dari tradisi Jahiliyah yang terbiasa berkelahi sekaligus membebaskan kalian dari kekufuran. Allah pun telah mempersatukan hati kalian dengan rasa kasih sayang. Apakah kamu ingin menjadi kafir kembali…?”

Mendengar ucapan Rasulullah itu, sadarlah mereka, bahwa kelakuannya itu sangat buruk dan akan merugikan meeka sendiri, bahkan sebaliknya, hal itu akan menguntungkan musuh-musuh yang memang membenci agama Allah. Mereka mulai sadar kalau hal itu terjadi karena hasutan seseorang yang tidak senang dengan kekuatan persatuan umat ini. Lalu mereka pun kembali saling menebar kasih di antara sesama mereka dan bubar kembali ke tempat masing-masing. Amarah mereka pun padan dan berganti dengan cinta kasih yang telah lama dipupuk Rasulullah.

Maka turunlah ayat ini sebagai celaan atas tingkah laku orang-orang kafir yang tidak pernah berhenti mengadu domba, memporakporandakan kesatuan umat.