Riwayat Gitar Obes dari Sukamerang

18.316 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT-Gitar merupakan alat musik yang sangat populer hingga saat ini. Tak hanya dimainkan oleh band papan atas, tapi sering juga dijadikan alat pencari nafkah oleh para pengamen di jalanan. Menyikapi hal itu, tim Media Center Diskominfo menelisik kehidupan para pengrajin gitar, salah satunya yang berada di Desa Sukamerang, Kecamatan Kersamanah, Garut.

Advertisement

Gitar Obes, begitu orang mengenalnya. Kata “Obes” merupakan akronim dari Omong Besar. Tapi apakah hasil tangan mereka itu merupakan omong besar?

“Awal mulanya saya adalah pelukis,” ujar Asep Soleh Nurdin yang sering disapa Asep Obes.

Asep menuturkan, sejak SMP sudah mampu memainkan gitar. Hingga kemudian bersama rekan sekampungnya di Desa Sukamerang mendirikan grup band kecil-kecilan.

“Kami menamakannya Sejiwa Band”, tanggap Bunyamin, rekan satu grupnya.

Namun seiring perputaran waktu, Tahun 1992 Asep Obes merantau ke Bandung dengan niat ingin mengubah hidupnya sebagai seorang seniman musik. Hobi main gitarnya kemudian dia kembangkan di Kota Kembang (Bandung).

“Mungkin nasib saya harus seperti ini,” tambah Asep Obes dengan nada lirih, mengenang masa lalunya.

Sewaktu di Bandung, konon ia sampai bisa kenal dengan gitaris RIF Band, hingga sekelas Doni Suhendra, Gitaris Krakatau Band.

Tahun 2008 Asep Obes kembali ke kampungnya di Desa Sukamerang, lalu menikah dengan perempuan yang sekampung dengannya. Didorong kebutuhan ekonomi keluarga, keahlian memainkan gitar Asep Obes pun terusik kembali. Ia didukunng oleh rekannya, Bunyamin, dan mencoba keahlian lain yang dimiliki Asep Obes.

“Ya, dia punya keahlian membuat gitar elektrik,” Ujar Bunyamin, yang kini menjabat Kepala Desa di Sukamerang.

Asep sendiri hingga kini belum mampu membuat gitar sesuai pesanan, karena terbentur modal. Sedangkan untuk memperoleh bantuan kredit, salah satu syaratnya dibentuk kelompok. Asep berpikir syarat itu agak berat, mengingat keahlian ini membutuhkan rasa seni yang tinggi.

“Sampai saat ini saya baru bisa memperbaiki gitar-gitar ini,” katanya, sambil menunjuk gitar-gitar yang telah diperbaiki. Hampir seluruh gitaris yang berasal dari Garut sudah mengenalnya, dan memercayakan  servis gitar kepadanya.

“Bahkan ada teman yang jika gitarnya rusak, hanya mau diperbaiki oleh saya. Sengaja dari Australia hanya untuk memperbaiki gitarnya di sini,” tutur Asep yang diiyakan oleh Ade, rekan satu grupnya.

Asep pun dengan fasih menceritakan bagaimana membuat gitar elektrik yang bagus. Selain bahan dasar kayu, hingga bahan lainnya. Bahkan untuk membuat gitar pesanan, Asep harus  menanyakan  berat badan pemesan.

“Sederhana sih, agar yang memainkan gitar nantinya nyaman dalam mainkan gitarnya”, lanjut dia.

Meski usaha membuat gitarnya terkendala modal, dia yakin suatu saat nanti hobinya ini akan semakin diminati. Harganya murah, walau berprinsip tidak menghilangkan kualitas.

“Harga kampung, kualitas Bandung”, pungkasnya diplomatis.

Camat Kersamanah, Drs. Anwar, saat mendampingi Tim Media Center berharap ada pihak yang mau membantu salah seorang warganya. Karena ia yakin, dengan adanya bantuan pemodal, Asep mampu membuat gitar kualitas bagus setiap bulannya 10 buah gitar.

Gitar hasil karya Asep Obes kini diberi nama Gitar Obes. Obes, menurut Camat Anwar adalah singkatan dari Omong Besar. Meski ia yakin karya warganya ini bukan lagi omong besar, tapi hasil karya anak bangsa yang mesti dihargai.

Penulis: Syifa
Editor :NA