Saat Dulu Gadget Belum Ada

8.397 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG  – Sesampainya dirumah, Lutfi langsung menyambar gadgetnya. Mungkin saja dirinya langsung melupakan pelajaran yang dia dapati tadi pagi di bangku SMP. Begitu asyik dengan gadgetnya hingga berjam –jam.  Sudah sejak kelas 2 SD dirinya akrab dengan gadget. Berarti 6 tahun sudah dirinya diperkenalkan dengan apa itu gadget.

Advertisement

Kami coba mengingatkan anda kembali ke pada lirik ini

Cing ciripit Tulang bajing kacapit
Kacapit ku bulu paré
Bulu paré sesekeutna
Jol pa dalang mawa wayang
Jrék-jrék nong, Jrék-jrék nong.

 

Untuk anda yang berdomisili di Jawa Barat dan lahir sebelum tahun 1990 an mungkin lirik diatas tidak asing lagi. Namun beralih ke era digital, sepertinya sudah sangat jarang kita mendengar anak – anak melantunkan lirik itu, dipedesaan sekalipun. Anak-anak kita sudah sangat akrab dengan Gadget, apalagi sangat mudah mendapatkan berbagai konten disana, mulai dari game online hingga konten – konten yang negatif sekalipun.

Banyak cara dilakukan agar merubah kebiasaan buruk anak dari bermain game online hingga bermain Gadget yang dapat membuka konten konten negatif, menjadi hal yang lebih positif, seperti yang dilakukan para anak yatim piatu di museum Sri Baduga, Bandung, sabtu sore, 24 februari 2018. Anak anak ini diajarkan cara permainan tradisional Jawa Barat jaman dulu yang hampir punah.

“”Jadi orang tua jaman dahulu sangatlah cerdas memberikan sebuah permainan yang didalamnya memiliki nilai nilai mengantarkan sebuah makna bagaimana kita melakukan dalam bergotong royong seperti main bakiak, “ kata Esther Miori, kepala musium sri baduga kepada kontributor kami di Bandung, Abby Aditya Ersa Putra.

Kata dia, permainan anak tradisional ini seperti enggran, bakiak, sapintrong dan main congklak adalah model permainan yang sangat baik untuk mengolah motorik otak pada anak dan dari sisi fisik dapat dapat mengolah fisik anak serta segi emosi, bagaimana membangun kerjasama dengan temannya. Tidak seperti gadget tentunya.

Ety Royahati dari pengurus  ketua yatim piatu itu menimpali, permainan tradisional anak jaman dulu tidak memakan biaya yang banyak dan tidak membahayakan, kalau dibandingkan dengan sekarang, anak sibuk pada permainan game online dan membuka internet, dikhawatirkan membuka konten yang negatif yang dapat merusak generasi bangsa kedepannya.

“Jadi permainan yang dulu – dulu  jarang di pake, jadi hanya hp aja yang diliat soalnya permain yang dulu – dulu tidak membahayakan dan tidak memakan biaya yang banyak,kalau sekarang anak tuh sibuk dengan internet” Ety berharap permainan tradisional ini tidak punah, dapat dilestarikan melalui sekolah sekolah dikenalkan pada anak lainnya

“Harusnya bukan cuma disini (musium sri baduga) aja diajarkan,disekolah – sekolah terutama SD (Sekolah Dasar) juga diajarkan, biar gak terpengaruh seperti saya dulu diajarkan sama orang tua” pungkasnya.

Taukah ada, di Jawa Barat sendiri ada banyak permainan tradisional yang biasa dimainkan anak- anak era 40 an hingga 90 an, diantara permainan yang mereka biasa mainkan adalah orai – oraian, boi-boian, galah asin, gatrik dan 38 permainan tradional lain yang sangat variatif. Masihkah kita tertarik mengajarkan anak – anak kita permainan tersebut ?