Petani Udang Sungsang Ingin FSS Sumsel Jadi Jembatan Untuk Sejahterakan Masyarakat

918 dilihat

BUANAINDONESIA.CO.ID, Banyuasin,–Masyarakat nelayan di kawasan Sungsang Banyuasin masih terkendala pemasaran udang. Banyak petambak yang membudidayakan spesies udang bersifat tradisionil. Demi memerdekaran kepentingan nelayan, Forum Sumsel Sejahtera (FSS) tetap berupaya membangkitkan kedaulatan perikanan di Provinsi Sumatera Selatan.

Ketua Forum Sumsel Sejahtera (FSS), Afandi Mulya Kesuma memaparkan, salah satu misi pembangunan nasional yang terkait dengan pembangunan kelautan dan perikanan adalah mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasis kepentingan masyarakat nelayan.

“Untuk itu, FSS siap memperjuangkan kemandirian masyarakat nelayan. Juga kita terus berupaya menjadi mitra bagi kesejahteraan nelayan terutama petambak udang,”ujarnya.

Untuk memastikan bagaimana nasib petambak udang, Afandi yang didamping Dolly Reza Pahlevi Sekretaris FSS mendatangi usaha tambak udang milik Kurnia Dwitama di Desa Muara Sungsang, Parit II, Kecamatan Sungsang, Kabapaten Banyusin, Sabtu 30 November 2019 kemarin.

Menurut Kurnia, usaha tambak udang yang dijalankan baru sekitar 3 tahun, pola Tebar Padat Intensif. Selama ini jenis udang yang dipelihara adalah udang Vaname. Dikatakan  luas kolam 40 x 40 meter,  mengaku bisa membudidayakan sekitar 200 ribu benih udang.
Masih kata Kurnia, Hasil panen  tujuh puluh tujuh hari,  bisa memperoleh 3 ton udang siap jual.

“Ya, boleh dikata usaha tambak udang yang saya jalankan ini murni dana pribadi. Alhamdulillah, hasil panen lumayan menggiurkan bila dibanding pola tradisional,” ungkap Kurnia.

Dia berharap, masyarakat petambak udang di kawasan Sungsang  mengharapkan perjuangan FSS untuk menjembatani kesejahterakan para petambak udang.  Apalagi bukan rahasia lagi problema yang acapkali dialami oleh masyarakat petambak udang yaitu terbatasnya informasi soal harga pakan serta perbenihan udang yang laik tebar. Serta minimnya pola pendampingan saat pembesaran budidaya udang.

“Anda bisa bayangkan untuk mendapatkan benih dan pakan yang berkualitas saja saya harus rela ke Lampung. Kok, kita di Sumsel saja tak punya perusahaan seperti yang ada di Lampung. Belum lagi kita bicara soal tenaga teknis untuk pendamping di lapangan. Waduh, banyak sekali masalah yang dihadapi petambak kalau mau kito bahas di Sumsel ini,” Kurnia setengah kecewa.

Hamkah N.S. Direktur Usang Rimau di Banyuasin itu menceritakan, dari dahulu hinggi kini para masyarakat nelayan tak ubahnya seperti buruh. Bahkan turun menurun keluarga nelayan selalu berhadapan dengan hasil tangkapan laut. Padahal, masyarakat nelayan saat ini memerlukan peralatan-peralatan yang memadai.

“Saya melihat belum ada keseriusan pemerintah dalam mensejahterakan nelayan. Nah, untuk itu besar harapan kami dari nelayan agar FSS bisa mencarikan solusi bagi nelayan,”