Bupati Garut Terima Kunjungan Pertamina Jabar

5.389 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Bupati Garut H Rudy Gunawan menerima kunjungan jajaran Pertamina Jawa Barat terkait koordinasi internal mengenai Rencana Subsidi Bahan Bakar minyak Pertalite , yang sekarang masih di godog pemerintah, permohonan penambahan pangkalan gas 3 kg subsidi dan penertiban pom mini, di Ruang Pamengkang, Kabupaten Garut, Jum’at 6 November 2020.

Selain jajaran Perwakilan Pertamina Jawa Barat, turut hadir Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Kabupaten Garut Gania, dan dari Pertamina Jabar di wakili SBM wil V mor 3 Arthur Kemal Pamungka, Pengurus Hiswana DPC kabupaten Garut Iday Hidayatulah dan Evi Hartaz.

Advertisement

Bupati Rudy Gunawan mengatakan, kegiatan tersebut membahas mengenai perhitungan subsidi dan penambahan pangkalan gas 3kg. Hal ini bertujuan untuk meringankan beban masyarakat yang ada di desa-desa.

” Jadi kemarin Pertamina Regional Jawa Barat, mengadakan komunikasi dengan kami, diantaranya kami mau menghitung yang berhubungan dengan subsidi gas dan yang kedua kami sudah mengajukan permohonan sebenarnya untuk menambah pangkalan kembali di tiap-tiap desa yang jumlah penduduknya besar dan jumlah kemiskinannya tinggi,” ucap Rudy.

Bupati menambahkan, Anggaran Rumah Tangga (ART) gas 3kg yang ditetapkan sebenarnya sekitar Rp. 16.900, akan tetapi para pedagang menjualnya dengan harga lebih dari Rp. 20.000.

” Gas yang subsidi yang 3kg, kan ART (Anggaran Rumah Tangga) yang dari bupati itu hanya Rp. 16.900 sebenarnya, tapi pada kenyataannya di pedagang dijual lebih dari Rp. 20.000 padahal ART kami tidak (boleh) lebih dari 17.000,” lanjutnya.

Rudy menilai, perbedaan harga gas 3 kg ini dikarenakan adanya uang transportasi bagi pemilik warung yang menjual gas.

” Susah karena memang ada pihak-pihak tertentu yang membeli misalnya di pangkalan 17.000 dengan uang transportasi ke warungnya, ya warungnya menjual (dengan harga) negosiasi lah. Ketika di warung tidak ada patokan harga,” timpal Rudy.

Selain itu, berkaitan dengan keberadaan pom mini, pihaknya berharap adanya pengawasan dari Pertamina terhadap pom mini, karena pom mini sendiri tidak dikeluarkan oleh pihak Pertamina.

“ Kami juga memohon adanya pengawasan yang baik terhadap pom mini karena pom mini itu ternyata tidak dikeluarkan oleh pertamina, pertamina ini hanya membuat untuk depo-depo. Tera-nya tidak terukur dan tentu kualitasnya tidak terukur,” ungkap Rudy.

Pemerintah Daerah Kabupaten Garut pun, lanjut Rudy, akan melakukan penertiban terhadap pom mini.

” Iya jutsru akan ditertibkan oleh pemerintah daerah, jadi mereka selama ini kan tanpa ijin dan tanpa ada kuota dari pertamina. Ini hanya orang tertentu yang menjual seolah-olah ada pom mini,” pungkas Rudy.

Sementara itu, menanggapi statmen Bupati Garut, Humas Hiswana kabupaten Garut Evi Hartaz menuturkan, bahwa alokasi LPG 3kg subsidi di kabupaten garut di sesuaikan dengan persentase jumlah miskin yakni 8,98 persen.

” Tetapi menurut saya sah – sah saja pak bupati bermaksud memohon penambahan pangkalan di desa – desa terpencil” ucapnya.

Masih menurut Evi , Pertamina saat ini telah meluncurkan produk Pertamina yang diberi nama Pertashop, dimana Pertashop itu merupakan kerjasama Kementrian dalam negeri dengan PT. Pertamina dengan maksud menyamakan satu harga , dengan BBM yang tersedia di SPBU – SPBU pada umumnya.

” Untuk di kabupaten Garut sendiri Pertashop ,telah ada di beberapa kecamatan yang ada di kabupaten Garut diantaranya di kecamatan Selaawi dan Cisompet dan lokasi lain yg sedang dalam tahap pembangunan, semoga untuk di kecamatan lainnya bisa segera menyusul” harap Evi .