Kabupaten Bandung, BuanaJabar.com – Desa Karyalaksana hingga detik ini masih mencoba bangkit mengejar ketertinggalan. Pasalnya pemerintahan desa ini baru saja diterpa ‘ Badai ‘ dan isu penyelewengan dana desa. Isu yang berkembang ternyata tidak sepenuhnya benar, di bawah kepemimpinan kepala desanya, warga disini masih bahu membahu membangun desanya.
Diungkapkan Endan Suhendar, salah satu tokoh masyarakat sekaligus kepala dusun desa Karyalaksana, Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung. Kata Endan, mayoritas masyarakat justru memaklumi kepemimpinan kepala desanya yang baru menjabat.
” Ya mungkin kemarin-kemarin kaku ya, maklum baru menjabat. Tapi sekarang sudah ada kemajuan. Jalan terbangun, sarana desa terbangun, sarana juga mulai terbagun. Masyarakat disini mayoritas cukup puas ya, ” Kata Endan.
Endan menambahkan saat ini pembangunan didesanya mulai tampak. Tak semua masyarakat membenci kades. Dirinya menganggap itu hanya dinamika di masyarakat.
” Seperti kemarin, Program Rumah Tidak Layak Huni ( Rutilahu ) dari ADPD ( Alokasi Dana Perimbangan Desa ) tersalurkan. Itu untuk rumah saudara Furqon di RT 02 RW 03. Nah untuk raskin yang dituduhkan diselewengkan aparat desa, itu bukan diselewengkan, tapi ada keterlambatan pembayaran dari RW, karena yang menagih uang raskin ke masyarakat itu RW. Desa hanya memfasilitasi. Karena RW telat, ya desa telat juga setor ke Bulog. Karena mepet mau idul fitri, jadi tidak bisa dikirim Bulog. Saya bukan bela desa. Saya tau permasalahan itu karena saya ikut dalam penyaluran raskin itu. Lalu jalan desa, semua dibangun, ” Kata Endan.
Sebelumnya diberitakan nama Desa Karyalaksana mencuat kepermukaan karena adanya pelaporan dari orang yang mengaku warga ke polisi, mereka mengklaim kades mereka ( Dede Ita ) melakukan penyelewengan Dana Desa. Namun disisi lain masyarakat menilai kasus itu berlatar politis. Pegiat sosial kemasyarakatan juga menyayangkan adanya pro kontra ini. Kata mereka seharusnya permasalahan ini bisa selesai di tingkat desa atau kecamatan. Mereka menilai jika ada gonjang ganjing seperti ini, yang akan menjadi korban adalah masyarakat itu sendiri. Adanya pro kontra seperti di Karyalaksana adalah penyebab pembangunan desa banyak terhambat.
A.H Pradhana, jurnalis yang sering menemui kasus serupa di daerah -daerah menyebut dana desa merupakan sosok menakutkan kepala desa karena sering terjadi silang faham antara pemerintahan desa dan warga.
” Ya banyak kasus ya. Nah, seperti di Karyalaksana itu bukan kasus baru, banyak di daerah terjadi hanya karena dasar suka atau tidak suka pada kepala desa, segelintir orang menghembuskan isu tidak sedap terkait penggunaan dana desa oleh kades. Banyak motif ya, tapi kebanyakan politis dan uang, ” Kata Pradhana.










