Ini Cara Bagaimana Agar Pewisata Merasa Nyaman Di Satu Destinasi Wisata

17.693 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Ditengah gencarnya promosi wisata dilakukab oleh pemerintah, Para pelaku dunia usaha pariwisata menyadari masih banyak hal – hal yang harus diperbaiki dari dunia pariwisata Indonesia.

Iwan Darmawan, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwasata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat mengatakan perlu komunikasi yang baik antar pemangku kepentingan guna menunjang peningkatan pariwisata, terutamanya di Jawa Barat. Hal ini dikatakan iwan di sela – sela Workshop pengembangan sadar wisata dan sapta pesona dan peningkatan kapasitas usaha masyarakat di destinasi pariwisata.

Advertisement

” Kegiatan ini didukung oleh pemerintah pusat. Dengan Target 250 Juta wisatawan nusantara dan 20 juta mancanegara itu perlu terus – terusan meningkatkan kondisi kondusif di masing – masing destinasi. Salah satunya dengan sapta pesona ini melalui peningkatan kapasitas usahanya, kapasitas destinasinya, itu harus terus gak bisa berhenti.Pariwisata ini kan di setting untuk jadi fungsi ekonomi.Pariwisata ini penggerak ekonomi paling murah. Pariwisata ini penggerak ekonomi paling murah, terbukti kan, ekonomi ini digerakan dengan kunjungan orang. Acara ini adalah memberikan pengenalan – pengenalan pada pelaku usaha dan pengelola destinasi itu bagaimana seharusnya mereka memperlakukan pengunjung ini sehingga mereka menjadi nyaman didestinasi itu. itu intinya, ” Kata pria yang akrab disapa Idar ini.

Lebih lanjut, Idar mengatakan masalah yang paling utama dunia pariwisata Jawa Barat sebenarnya bukan hanya kondisi jalan yang macet, permasalahan yang tak kalah penting adalah sikap eksploitatif yang masih banyak ditemukan di satu destinasi wisata. Untuk menyelesaikan permasalahan itu dibutuhkan komunikasi yang antar pemangku kepentingan

” Keluhan ada ya pasti ya. Tapi sebenarnya mereka tidak mempersoalkan macet. yang mereka persoalkan terkadang belum ter tatanya masalah sosial. contohnya, banyak pedagang asongan yang terkadang terlalu memaksa. Inikan yang kadang-kadang daya tarik itu menurun. Kita kan di provinsi tidak punya kewenangan langsung pada objek, kecuali pada dastinasi yang dikelola langsung, contohnya Tahura misalnya. Nah paling banyak keluhan Tangkuban perahu, itu kan sudah di konsesi ya ( tidak dikelola disparbud Provinsi Jabar ). Itu sisi kenyamanan ya, dari pricing , harga, misal domestik (harga tiket) Rp 30.000, yang ini ( mancanegara ) Rp 300.000. Seharusnya tidak ada diskriminasi harga. Kalau mau misal rata Rp. 50.000, tapi apa yang diberikan ( destinasi itu ), kenyamanan seperti apa. Lalu masih ada ‘ kelompok-kelompok’ masyarakat yang masih eksploitatif, jadi ketika datang pengunjung, ah seenaknya aja kasih harga, semaksimal mungkin dimanfaatkan. Makanan -makanan jadi mahal, ini mahal. Seharusnya disadari betul lah, bukan itulah untuk menjaga keberlangsungan usaha, bukan ada orang ( pengunjung ) hajar habis gitu, ” ucap Idar.

Idar menambahkan kondisi pariwisata Jawa Barat diharap akan segera membaik seiring dibangunnya beberapa infrastruktur penunjang seperti beberapa jalan Tol, Kereta Cepat Jakarta Bandung, pengembangan bandara Nusawiru dan Bandara Internasional Jawa Barat ( BIJB ) yang sedang dikebut pembangunannya.

” Destinasi wisata dikita itu kan jika dihitung waktu masih dikisaran 4 jam , bahkan ada yang 7 jam.beberapa jalan Tol segera selesai, Kereta Cepat, kabarnya bandara Nusawiru itu akan ditambah runawaynya, yang sekarang 1500 meter manjadi 2,5 ( Kilometer ) kalau 2,5, keuntungan saya di bagian pemasaran itu adalah wide body airplane masuk, kalau itu masuk, jadi transaksi nya lebih tinggi. Sementara bandara Ciletuh itu belum, masuknya sementara dari Nusawiru lah. Kalau dari timur kan ( perjalanannya ) relatif lebih nyaman dan pantainya itu kan kan terus sampai ujung. Menyusuri pantai – pantai, ” tambahnya.