Kadisdik Kabupaten Bandung Klaim UNBK Tingkat SMP Naik 28 Persen

8.175 dibaca
Para peserta UNBK 2018 di SMPN 1 Soreang. (Buanaindonesianetwor/Ahmad Sugriwa)


BUANAINDONESIA.CO.ID, KAB BANDUNG – Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Kabupaten Bandung naik hampir 30% dari tahun lalu. Kepala Dinas Pendidikan Kab Bandung, Juhana mengungkapkan,  tahun 2017 UNBK hanya dilaksanakan 20% dan pada tahun ajaran 2017 bertambah menjadi 48%.

“Tahun depan (2019) akan kita upayakan menjadi 60 sampai 70%, artinya setiap tahun harus meningkat untuk mendukung pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) di Kabupaten Bandung. Dan pastinya tujuan itu harus didukung oleh pengadaan sarana prasarana komputer, baik dukungan dari partisipasi  masyarakat juga kemitraan dengan sekolah SMA dan SMK,” ungkap Kadisdik usai mendampingi Bupati Bandung Dadang Naser melakukan peninjauan pelaksanaan UNBK hari kedua di SMP Negeri 1 Soreang  Kecamatan Soreang, Selasa 24 April 2018.

Advertisement

Untuk tahun pelajaran 2017-2018 lanjutnya, ada 206 sekolah yang menjadi peserta Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP). Angka tersebut, diantaranya 35 Sekolah Rakyat (Sekra) Negeri, 4 Sekra SMP Satu Atap, Sekra SMP Swasta sebanyak 147 sekolah, SMP Terbuka Gabung 7 sekolah serta SMP  Swasta Gabung 13 sekolah, dengan jumlah siswa yang mengikuti ujian sebanyak 23.794 siswa.

“Sementara, pelaksanaan UNBK tahun ini di Kabupaten Bandung ada 109, yakni 18 sekolah SMP Negeri (mandiri), 49 sekolah swasta (mandiri), 22 sekolah SMP Negeri (gabung) dan 20 sekolah SMP swasta (gabung), dengan siswa yang mengikuti ujian sebanyak  22.441 siswa,” sebut Juhana.

Lebih lanjut Kadisdik menerangkan pelaksanaan UNBK bukan menjadi kewajiban, namun pihaknya akan terus berupaya untuk memperkuat pembangunan SDM melalui pendidikan. Mengenai kriteria kelulusan siswa, dia mengungkapkan ada 3 indikator yang perlu diperhatikan, yakni anak harus mengikuti proses belajar selama minimal 6 semester untuk SMP atau 80%, kemudian soal kehadiran siswa harus 80%,  kecuali sakit masih bisa ditolelir dan berkelakuakn baik.

“Indikator yang menonjol kali ini lebih pada pendidikan karakter anak.   Pembentukan kepribadian yang baik pada anak akan lebih diprioritaskan, bukan pada capaian skor nilai tertinggi akademik. Meski demikian nilai akademiknya juga penting untuk mengukur kemampuan anak. Ada progres yang dilalui, karena pada prinsipnya tidak semua anak memiliki tingkat kompetensi dan intelegensi, jadi nilai kejujuran dan ketaqwaan adalah point terpenting.