BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Pernyataan berbagai ketua partai politik yang diumumkan pada publik melalui konfrensi pers, senin, 21 Agustus 2017 malam tadi menyiratkan keinginan elit parpol untuk lebih dihargai para figur yang disebut akan maju dalam Pilgub Jabar 2018. Mereka juga yang berkumpul malam itu ingin publik mengetahui bahwa parpol – parpol ini bisa unjuk kekuatan di kontestasi Pilkada Jabar 2018 mendatang
Demikian dikatakan Dr Yusuf Hermawan, Analis dan pengamat politik dari Lembaga Kajian Aliansi Masyarakat untuk HAM, Demokrasi dan Keadilan Hukum ( Amandemen )
” Seruan itu terdengar jelas, mereka ingin para nama – nama ( yang ingin maju dalam Pilkada Jabar ) itu jangan jumawa. Jangan hanya karena populer , seolah – olah mereka lah yang dibutuhkan partai. Dalam sistem Pilkada kita saat ini, baik figur ataupun Partai, sama – sama penting perannya. Figur itu tak bisa maju tanpa partai, partai juga sulit menang jika figurnya tidak menarik di mata publik, ” kata Yusuf.
Selain pesan yang ditujukan pada figur – figur, momen politik tadi malam juga merupakan pesan pada parpol – parpol lain yang selama ini telah mengukuhkan poros
” Menarik, pernyataan tegas Bu Ade ( Ade Munawaroh Yasin, Ketua DPW PPP Jabar ). Kan bu Ade ini eksplisit menyebut bahwa partainya tidak pernah diajak bicara oleh PDIP – Golkar maupun oleh Gerindra – PKS . Mereka beranggapan poros baru bisa menjadi jawaban atas sikap kedua poros tadi. Poros baru PPP – Demokrat – PAN memiliki posisi sentral yang cukup menjanjikan dalam peta politik di Jabar, terlebih ditambah bisa melahirkan figur pembaharu, bukan sekedar baru, jangan hanya figur itu – itu saja ( Demiz, RK dan Dedi Mulyadi), figur yang dapat mewujudkan harapan, bukan menjanjikan harapan, bisa membawa pencerahan bagi masa depan Jawa Barat, bukan masa depan elit -elit politik saja. Ingat, bangsa ini sudah lelah dengan janji – janji, konflik – konflik, jangan sampai mereka menjadi apatis, ” ujar Yusuf
Lanjut Yusuf, para elit partai Jawa Barat itu juga menegaskan sekali lagi bahwa partai mereka bisa unjuk kekuatan dalam Pilkada Jabar 2018. Mereka juga mengusung nama calon pemimpin Jabar
” Mereka unjuk kekuatan, cukup ( bisa mengusung nama calon) saya kira jika PAN, Demokrat dan PPP bersatu jadilah 25 kursi, jadilah poros baru itu. Kenapa saya sebut 3 partai itu, ya karena mengerucutnya kesana. Kalau ( koalisi ) ini jadi, justru Nasdem yang sudah punya usungan ( Ridwan Kamil ) mau kemana ? . Andaikata, misal, PKB dan Hanura akan juga usung Ridwan Kamil bersama Nasdem, mereka tidak akan cukup. PKB 7 ( kursi di DPRD tingkat provinsi ), Nasdem 5 , Hanura 3, hanya 15 kursi, yang dibutuhkan kan 20. Para figur ancang – ancang lah untuk melobi paket poros ini, tidak bisa hanya Demokrat saja misalnya, PPP saja, PAN saja, tidak partai per partai, tapi paket, Demokrat, PPP dan PAN, ” Jelas Yusuf
Yusuf menambahkan, momen politik malam tadi juga membawa pesan bahwa popularitas bukan satu – satunya indikator satu figur akan pasti diusung poros ini,
” Popularitas bukan satu – satunya indikator, komunikasi juga faktor penting. Resistensi satu figur juga dipertimbangkan. Artinya figur yang tidak jumawa, over confidence, cenderung clear, bersih, tidak resisten terhadap kelompok apapun, tidak punya catatan buruk dimata publik dan bisa diterima semua kalangan akan menjadi sangat penting bagi poros baru ini. Sekali lagi patut kita garis bawahi, politik itu komunikasi, ” tambah Yusuf.
Menanggapi pernyataan ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat, Mulyadi bahwa hingga kini Deddy Mizwar belum juga menunjukkan keseriusannya untuk menjadi Kader Gerindra ( sebagai salah satu syarat agar Demiz dapat diusung Gerindra), Yusuf memaparkan, bahwa pernyataannya itu adalah bentuk komunikasi politik Gerindra ( di Jawa Barat ) sedang meyakinkan publik bahwa partai itu masih membuka pintu bagi figur lain, terutama dari internal Gerindra
” Ini kan statement yang berulang. Mulyadi coba meyakinkan pada kita bahwa pasangan Demiz ( Deddy Mizwar ) dan Ahmad Syaikhu memang belum pasti atau bisa jadi ini bentuk desakan pada Demiz agar segera melaksanakan komitmennya untuk menjadi kader Gerindra. Demiz harus menunjukkan keseriusannya menjadi kader partai. Berarti harus patuh pada mekanisme menjadi kader partai itu. yang tak kalah menarik justru pernyataan Mulyadi yang mengatakan kader partai yang dimaksud adalah kader yang lahir dari rahim Gerindra, artiannya kader sejati yang sejak awal berjuang dengan Gerindra, bukan kader yang tiba – tiba muncul karena ada kepentingan. Pernyataan Mulyadi itu cukup tajam, jelas. Ingat juga, siapapun yang ingin diusung Gerindra, harus juga berkomitmen mendukung Prabowo menjadi presiden pada 2019 nanti, ” kata dia
Sebelumnya, sejumlah ketua partai di Jawa Barat bertemu dan melakukan komunikasi lanjutan membahas berbagai permasalahan seputar pemilihan kepala daerah Jawa Barat 2018 mendatang pada senin, 21 Agustus 2017 malam di Hotel Horison, Bandung, Jawa Barat.
Hadir dalam pertemuan itu Plt Ketua DPW PAN Jabar, Hasbullah, Ketua DPD Demokrat Jabar, Iwan Sulandjana, Ketua DPW Jabar PPP, Ade Munawaroh Yasin, Ketua DPD Gerindra Jabar Mulyadi. Sementara Ketua DPW Jabar Syaiful Huda diwakili Kadernya Hendra Guntara, sedang Hanura diwakili Ketua Tim Pemenangan Pilkada Partai (TPPP) Hanura Jabar, Budi Hermansyah.










