Suhardi: Terorisme Telah Masuk Perguruan Tinggi

14.422 dibaca

BUANAINDONESOA.CO.ID, BANDUNG- Penyusupan pemahaman radikalisme dan terorisme telah masuk ke perguruan tinggi. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Suhardi Alius, di Gedung Sabuga Institut Teknoligi Bandung (ITB), Sabtu, 10 Februari 2018.

Advertisement

Oleh karena itu, Suhardi mengingatkan agar Kementerian Perguruan Tinggi (Kemendikti) lebih selektif dalam rekrutmen dosen.

“Ternyata penyusupan itu bukan cuma di tingkat mahasiswa, di tingkat dosen pun masih ada. Jadi semua celah-celah itu sudah masuk, tingkatannya pasti berbeda-beda, tapi sudah ada. Sebab itu saya ingatkan Mendikbud, Mendikti,” ucap Suhardi.

Suhardi menambahkan, realitas di lapangan mahasiswa eksak lebih rentan untuk dimasuki paham radikal. Meski pun begitu, belum ada penelitian khusus terkait hal tersebut.

“Karena dia berfikir kan seperti hitam putih. Kalau yang sosial ada sedikit kenapa gini, kenapa gini, banyak tanya gitu. Bisa jadi tapi saya gak mengomentari bahwa ini sebuah hasil penelitian, karena belum ada penelitian, tapi kecenderungannya seperti itu, ” tambah Suhardi.

Suhardi menjelaskan paham radikal di Perguruan Tinggi tidak memiliki batasan. Mahasiswa berprestasi pun dapat dimasuki oleh paham radikal. Kemajuan teknologi dan digital mempermudah penyebaran hal tersebut, sehingga peran dosen, teman dibutuhkan dalam mencegah orang mejadi radikal.

“Ya gini, artinya tidak satu pun yang steril dari situ yah. Walaupun tetap tergantung kepada pribadi masing-masing, sangat sulit memonitornya kan. Nah ini, kalo dulu kita bisa gampang melihat secara fisik, tapi sekarang kalo orang diem tapi yang dibukanya semua konten-konten semacam gitu gimana? Saya kasih tahapan-tahapan orang menjadi radikal supaya mereka bisa mengidentifikasi, oh temen saya ini kayanya sudah mulai nih, informasi kan jangan salah. Mereka masa depan Indonesia,” tambah dia.

Suhadi memberikan gambaran pola rekrutmen yang biasa terjadi di perguruan tinggi, yaitu dengan membuat kelompok ekslusif, dimana tidak semua orang boleh masuk ke dalam kelompok tersebut.

“Kelompok-kelompok yang mulai memisahkan diri, kan sesuatu sebenarnya itu. Mudah di deteksi, tapi kan selama ini didiamkan. Nah sekarang kami berikan semacam guiden,” pungkap Suhardi.

Editor: NA