Akankah Kabupaten Garut Selatan Terwujud ?

6.383 dibaca
Krisna Mursid, Pegiat sosial yang telah sejak awal mengikuti isu pemekaran Garut Selatan

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Percepatan pemekaran Garut Selatan semakin terasa gaungnya. Berbagai elemen masyarakat turut menyoroti ini. Selain pemangku kepentingan seperti Gubernur Jawa Barat dan Bupati Garut, percepatan pemekaran Garut Selatan ini juga diharapkan akan bisa disegerakan.

Pegiat sosial , Tresna Mursid mengatakan, dirinya telah lama memotret berbagai potensi yang ada di Garut Selatan

“ Set Back ke belakang, saya bicara dengan pak Asep, Profesor di Unpad. Dia kebetulan orang Cisewu. Seiring waktu saya berikan advice, saya telah memotret potensi disana, hanya saja banyak hambatan ( untuk jadi pemekaran ) . Kita sudah juga coba dorong ke DPR. Berangkat dari situ, kami coba lobi, Insya Allah akan ketemu dengan kang Emil ( Ridwan Kamil ), “ kata Tresna.

Lanjutnya wilayah yang terlalu luas menjadikan perkembangan wilayah Garut Selatan sangat lamban

“ Itukan terlalu luas ya, jadi harus dimekarkan. Perkembangan jadi lambat, terutama Cisewu. Padahal banyak potensi. Saya juga dengar ada penambangan disana, warga disana juga kaget ada penambangan, padahal lahannya landai. Rawan. Sebenarnya orang – orang pusat juga tau soal ini, “ tambah dia.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Daerah (Pemda) Garut, Jawa Barat tinggal menunggu instruksi pemerintah pusat dalam pelaksanaan rencana pemekaran Garut Selatan (Garsel) yang telah diusulkan sejak 2004 silam itu.

“Soal pemekaran Jabar Selatan, Garut Selatan kan sudah selesai, tinggal administrasinya saja,” ujar Bupati Garut Rudy Gunawan, Senin, 10 September 2018 lalu.

Menurut Rudy, perjalanan panjang pemekaran Garut Selatan sudah dimulai sejak tahun 2004 . Saat itu era pemerintahan Bupati Agus Supriadi. Pemekaran wilayah ini mulai dibahas. Namun, dengan berbagai pertimbangan akhirnya rencana itu belum juga dapat terlaksana hingga kini.

“Sebenarnya September 2014 Garut lolos (pemekaran) namun karena moratorium (akhirnya ditangguhkan). sebenarnya tinggal administrasi saja,” tambah Rudy.

Sementara, sebelum itu Gubernur Jawa Barat Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan, jumlah penduduk Jawa Barat sebesar 48 juta jiwa atau terbesar se-Indonesia, tidak sebanding dengan jumlah daerah saat ini, yaitu hanya 27 kota kabupaten.

Untuk itu, dia terus mendorong pemekaran daerah pada masa awal pemerintahannya.

 “Prioritasnya di Jabar selatan,” ujar dia.

Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil menambahkan, jika membandingkan jumlah penduduk Jawa Timur yang berpenduduk 39 juta jiwa, tetapi memiliki 38 kota/kabupaten, begitu pun Sumatera Utara yang hanya memiliki 14 juta jiwa, tetapi memiliki 33 daerah kota kabupaten.

Dengan jumlahnya saat ini yang mendekati 50 juta jiwa, sudah selayaknya Jawa Barat dimekarkan menjadi 38 wilayah kota kabupaten administratif dalam melayani masyarakat.