Analis Politik : Kedatangan AHY Tidak Melanggar

8.501 dibaca
Kedatangan Agus Harimurti Yudhiyono (AHY) ke Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu 17 Maret lalu yang dihadiri paslon Akur, menuai kontroversi dari kubu lawan, Senin, 19 Maret 2018.

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Kedatangan Agus Harimurti Yudhiyono (AHY) ke Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu 17 Maret lalu yang dihadiri paslon Akur menuai kontroversi dari kubu lawan, yakni paslon Elin S Abubakar-Maman Sunjaya (Emas). Paslon Emas menganggap paslon Akur telah melanggar zonasi kampanye, terlebih hal itu terjadi dihari libur keagamaan.

Ketua DPC Demokrat Kabupaten Bandung Barat Iwan Setiawan, membantah kedatangan AHY tersebut merupakan bagian dari kampanye paslon Akur. Menurutnya, acara tersebut merupakan bagian dari kegiatan road show AHY di Jawa Barat. Kalau pada moment tersebut dihadiri Hengky sebagai cawabup, merupakan hal yang wajar dilakukan sebagai kader.

“Kehadiran pada acara tersebut juga tidak mengenakan atribut kampanye. Sebagai kader Demokrat yang menjunjung adat ketimuran menjadi kewajiban menyambut kedatangan tamu, terlebih dari DPP,” terang Iwan, Senin, 19 Maret 2018.

Sementara analis politik Universitas Ahmad Yani (UNJANI) DR. Wawan Gunawan, menilai sejauh ini belum ada institusi yang berwenang yang memutuskan bahwa hal tersebut melanggar aturan. Aturan kampanye mengikat terhadap paslon, sehingga sejauh hal tersebut tidak mengarahkan dukungan, hal itu bukan pelanggaran.

“Bahwa pada moment tersebut ada keuntungan politis bagi paslon itu, hanya bersifat insidentil dan bukan sesuatu yang patut untuk dibesar-besarkan,” katanya.

Menurut Wagoen, paslon lebih baik konsentrasi merumuskan kebijakan yang akan dilakukan jika terpilih, sehingga masyarakat memilih mana program para paslon yang lebih menarik dan menguntungkan.

“Strategi menjatuhkan lawan politik, apalagi dengan sesuatu yang tidak jelas, tidak hanya dapat menjadi bumerang, tetapi juga tidak memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.”

Wagoen menyayangkan momentum pilkada sebagai ajang mencari kesalahan lawan dan menjatuhkan lawan politik.

“Sangat disayangkan jika moment pilkada hanya dijadikan ajang untuk saling menjatuhkan lawan politik. Pilkada adalah ajang kompetisi ide, gagasan, dan program solutif,” pungkasnya.