‘ Cangklong’ Made In Garut Ini Dipasarkan Hingga Sumut

34.332 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT -Seorang perajin Cangklong di Kecamatan Sukaresmi mampu mengubah kayu Suwagi, Lokat dan tanduk Domba yang didapat didaerahnya menjadi aneka kerajinan cinderamata.

Edi (50), warga Kampung Jung Sare RT 01 RW 06 Desa Cinta Damai Kecamatan Sukaresmi, dari keterampilan tangannya itu sudah menembus pasar luar Jawa.

Advertisement

Tonton : Cara meningkatkan Penghasilan ala dr Sigit Setyawadi Sp. OG

Daftar Disini  gratis

Di tangannya, kayu Suwagi, Lokat dan tanduk Domba tersebut dibuat kerajinan pipa rokok dan cangklong. Ia mengaku mewarisi keahlian sebagai pengrajin dari orangtua serta kerabat, dan sudah menggeluti pekerjaan sebagai pengrajin cangklong selama 15 tahun. Dirinya mengaku bangga ketika banyak orang dari luar Garut datang berkunjung ke rumahnya untuk membeli dan melihat proses membuat pipa rokok tersebut.

Menurutnya, banyak warga lokal yang ingin belajar kepadanya tentang membuat kerajinan cangklong tersebut.

Ia mengatakan proses membuat kerajinan cangklong tidak hanya persoalan teknik. Namun, pembuatan kerajinan itu butuh kesabaran, ketelitian, dan kedisiplinan serta mental yang kuat.

Baca juga : Shalat Malam Adalah Shalanya Para Nabi & Rasul 

Sosok lelaki pemalu ini mengungkapkan dirinya tidak saja memproduksi bahan mentah kerajinan yang dibeli oleh pedagang. Namun Edi juga yang menuntaskan proses produksi bahan-bahan tersebut agar lebih mengkilap dan bagus.

“Cara pembuatan awalnya kayu di potong-potong, kemudian dibalok. Kalau sudah membentuk, kayu di lobangi atau istilahnya di pupurus.

Selanjutnya, dibuat sambungan. Seharusnya sambungan itu biasanya pake tanduk, berhubung susah jadi pake kayu,” Jelas Edi, saat dirinya berdagang di Kantor Dinas Dukcapil Kabupaten Garut, Jumat (9/6).

Untuk pengerjaan satu buah cangklong, ayah delapan anak ini membutuhkan waktu dua hari. Barang yang sudah jadi biasanya langsung dikirim ke pemesan.

atau kata Edi, kalau tidak ada pesanan dia sendiri yang berdagang. Para pemesan cangklong dari berbagai kota di Jawa Barat, imbuhnya, sudah pernah memesan produknya, bahkan sampai ke luar Jawa.

Dalam satu minggu, dia bisa membeli 50 tanduk Domba ke jagal yang ada di pasar Bayongbong.

Kebanyakan tulang yang diperoleh memiliki ketebalan yang tipis dengan ukuran sekitar 40 cm. Di mana satu buah tulang bisa digunakan untuk membuat kerajinan pipa rokok atau cangklong.

Dibantu keluarganya, ia bisa memproduksi 20 buah dalam satu minggu. Harga satuannya variatif, mulai Rp 15 ribu hingga Rp 80 ribu.

“Seminggu yang lalu ada orang yang datang dari Medan dan memesan pipa rokok berikut cangklong, katanya buat acara di pameran. Alhamdulillah untuk kebutuhan sehari-hari tercukupi,” katanya.