BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat merilis 15 nama figur yang masuk dalam bursa Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Pemprov mengaku hal itu mereka dapat dari media massa. Dari nama – nama itu justru beberapa nama yang sering diberitakan media massa masuk dalam bursa Pilgub Jabar, tidak disebut dalam rilis Pemprov tersebut
Koesmayadi Tatang Padmadinata, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Daerah Penerintah Provinsi Jawa Barat mengatakan, nama – nama itu didapat dari pemberitaan media massa. Masih kata dia, bisa saja nama – nama itu berubah
” Dari media justru ramai nama-nama itu, misalnya satu kali aja bicara seperti misalnya pak egi cuma sekali pak eginya juga lagi naik haji ada pernah dikoran masukin, jadi kita hanya menjaring aja makanya saya menyatakan bahwa nama itu bisa bisa berubah itu bakal calon versi kami, bukan bakal calon versi KPU, KPU yang diputuskan nanti, itu masih bisa berubah dalam jangka waktu seminggu hari H sampai bulan februari, mungkin masih bisa berubah, bisa tidak ada semua itu, ya kita dari ini ya dari data, ” kata Koesmayadi
Koesmayadi juga menyatakan nama – nama yang dirilis dihadapan peserta dialog nasional memilah dan memilih Jabar hiji 2018 tersebut tidak melalui riset
” Yah engga – engga, yang kecatat sama saya saja dari media, yang terbaca sama saya saja. makanya itu tidak perlu menjadi satu statement resmi bukan itu, hanya nulis – nulis gitu aja, bisa aja nama saya tulis gitu aja, makanya saya tidak menepiskan ini menjadi itukan nama nama yang dibaca sama temen-temen saya sampai minggu pertama bulan oktober , tidak ada maksud apa apa, ” ucap Koesmayadi.
Sebelumnya, didalam sebuah dialog nasional yang digelar gerakan mahasiswa 77 -’78, melalui Asda Kesra Pemprov Jawa Barat, Koesmayadi merilis sebuah data yang berisi 15 nama cagub Jabar. Mereka adalah, Eggi Sujana, Buyung Lalana, Ai Hambali, Deddy Mizwar, Iwa Karniwa, Ridwan Kamil, Soetrisno, Dedi Mulyadi, Uu Ruzhanul Ulum, Mulyadi, TB Hasanudin, Aceng Fikri, Akhmad Syaikhu, Desi Ratnasari dan Dede Yusuf. Hal ini dipertanyakan awak media terkait metode apa yang digunakan Pemprov dalam merilis data dihadapan publik dan media massa tersebut.
Pengamat Politik, Dr Yusuf Hermawan menyatakan, seharusnya Pemprov lebih hati – hati dan komprehensif dalam merilis data untuk publik, jangan sampai ini dinilai sebagai penggiringan opini publik yang kemudian memiliki motif politik
” ya sekelas Pemprov Jabar seharusnya lebih hati – hati ya dalam merilis data seperti itu, komprehensif dan akurasi data juga jangan dikesampingkan. Kalau pak Asda menyebut berdasar data media massa, media massa yang mana. Kalau mau semua yang sering disebut media, itu ikut dirilis. Saya tanya mengapa nama – nama seperti Puti Soekarno, Aa Gym, bu Netty, Iwan Sulandjana, Agung Suryamal tidak disebut ? Nama – nama itu kan sering disebut media massa. Pak Asda kan Pejabat publik, lebih paham seharusnya, Kalau asal ‘ comot ‘ misalnya, ya jangan dipublikasikan . Itu saran saja tapi ya , mungkin pak Asda ada pertimbangan lain, kami tidak paham itu, ” kata Yusuf.











