Perempuan, Asmat, Sosial Media Dan #PerempuanPenyala

10.840 dibaca
alah satu Imigran Somalia mendukung kampanye #perempuanpenyala. Buana Indonesia Network/dokumentasi Pribadi Dinda Ahlul Lathifah

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Keberadaan perempuan dibeberapa keadaan masih dianggap biasa saja, bahkan ada yang memandang sebelah mata. Tapi tidak bagi Sekolah Relawan yang merupakan sebuah Lembaga Kemanusiaan yang bergerak dibidang edukasi kerelawanan. Saat ini Sekolah Relawan sedang melakukan kampanye dukungan bagi perempuan penyala yang sedang mengabdi dibeberapa pelosok daerah Indonesia melalui program Tatar Nusantara. Kontributor Buana Indonesia Network, Restia Aidila Joneva kali ini mendatangi mereka, perempuan – perempuan hebat yang tidak lelah menyuarakan suara perempuan. 

Advertisement

Dengan mengkampanyekan #PerempuanPenyala ini, para anggota di Sekolah Relawan akan hidup bersama masyarakat pelosok Indonesia selama satu tahun ke depan, salah satunya di Suku Asmat. Daerah ini dipilih karena menurut Sekolah Relawan, Suku Asmat bukan hanya menyoal gizi buruk, tapi juga butuh sahabat untuk membersamai perjuangan dalam mengembangkan potensi yang ada.

Dinda Ahlul Lathifah, salah seorang relawan mengatakan, kampanye ini diadakan sebagai bukti pentingnya kiprah perempuan. Selain itu juga memperlihatkan perempuan punya kekuatan untuk menginisiasi perubahan.

“Kegiatan kampanye sosial ini dalam rangka mendukung Perempuan Penyala yang sedang berada di pelosok Indonesia. Sebutan perempuan penyala sendiri kepada para perempuan yang sedang merintis kiprah untuk semesta. Saat ini ada beberapa relawan, ada dua orang yang di Asmat, yaitu Tika dan Mirsa, (mereka) akan fokus pada pendampingan pendidikan dan kesehatan,” ujar Dinda pada Restia, Sabtu, 10 Maret 2018.

Dinda menjelaskan, adanya kampanye berhastag Perempuan Penyala ini untuk mendukung relawan yang sedang berjuang di Asmat, selain itu juga mengajak masyarakat, khususnya perempuan lintas profesi dan latar belakang, untuk ikut bergabung bersama sebagai langkah awal menunjukkan betapa pentingnya kiprah perempuan dan bentuk nyata pergerakan perempuan.

” Sebenarnya ini kampanye sosial, kami menggunakan media sosial Instagram. Caranya kami meminta teman-teman untuk memposting di Instagram dengan menggunakan #PerempuanPenyala, kemudian mendownload twibbon dan dan memposting foto diri di akun media sosial Instagram. Kampanye seperti ini untuk mendukung kiprah dua relawan di Asmat serta menebarkan pemikiran positif tentang gerakan perempuan,” ujar Dinda yang merupakan anggota bagian divisi kreatif ini.

Adapun tujuan dari kampanye sosial ini untuk memberikan edukasi tentang kiprah perempuan dan menginformasikan kepada masyarakat betapa pentingnya pemberdayaan perempuan yang berkelanjutan. Perempuan memiliki ruang gerak dan juang yang luas di tengah masyarakat. Selanjutnya mengajak masyarakat ikut bergabung dan memberikan dukungan nyata.

Tidak hanya di Asmat, Dinda menambahkan ada beberapa beberapa relawan di Dieng, Mendawai, Oe Ue dan Adonara.

“Ini baru langkah awal dari sekolah relawan untuk berupaya memberikan kesadaran kepada masyarakat betapa pentingnya kiprah perempuan. Saat ini kami sedang berkampanye untuk relawan di Asmat. Kenapa Asmat, karena di Asmat perempuan adalah tonggak keluarga. Mereka adalah perempuan-perempuan yang tangguh, cari makan, ngasuh anak, cari sagu dari pagi sampai malam,” tambah Dinda yang merupakan Koordinator Kampanye #PerempuanPenyala ini.

Relawan perempuan selama di lokasi ikut berbaur dengan kegiatan di masyarakat. Seperti info terakhir yang diterima Dinda dari rekannya di Asmat yaitu Tika. Dinda mengatakan seharian penuh perempuan di Asmat bekerja dari pagi sampai malam, tapi jika cuaca mendung mama-mama (sebutan perempuan Papua) membuat noken, mengepang rambut dan bermain volly.

“Terakhir informasi itu dari Tika saya terima Jumat, karena di distriknya tidak ada sinyal. Seperti itu kegiatannya, ikut dengan masyarakat. Bekerja atau ikut kalau mending main volly dan mengepang rambut bersama mama-mama di sana,” pungkas Dinda.