RA. Lasminingrat, Perempuan Intelektual Pertama Dan Ibu Literasi Indonesia

52.454 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Tak berlebihan memang jika masyarakat Garut menginginkan Pemerintah segera menetapkan Raden Ayu Lasminingrat sebagai pahlawan. Betapa tidak, catatan panjang sejarah mencatat karya listerasinya tidak bisa begitu saja dilupakan.

Terkait Lasminingrat, rencananya akan digelar saresehan pada 10 April 2018. Ini sebagai jembatan untuk membuat usulan kepada Pemerintah Kabupaten Garut agar dibuatkan Peraturan Daerah yang menetapkan Raden Ayu Lasminingrat sebagai Pahlawan Garut. Salah satu usulannya juga memuat soal penetapan pembuatan nama jalan Raden Ayu Lasminingrat di Kabupaten Garut.

Advertisement

Dengan mengambil tema ‘RA. Lasminingrat, Perempuan Intelektual pertama dan Ibu Literasi Indonesia’, dengan melibatkan dua orang pembicara yakni Dr. Ruhaliah, M.Hum (FPBS UPI Bd) dan Deddy Effendie (penelusur sejarah RA. Lasminingrat). Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Garut, masyarakat, profesional, organisasi dan seluruh unsur masyarakat diharapkan akan menjadi langkah strategis bagi pengusungan RA. Lasminingrat sebagai Pahlawan Nasional.

Lasminingrat Sastrawati Pendidik

Hari ini, tepat 70 tahun yang lalu, 10 April 1948. Telah wafat seorang sosok intelektual modern bangsa. Tokoh yang langka di zamannya, terlebih perempuan pula. Namanya jarang dikenal dan dikenang orang. Namanya hanya sayup-sayup terdengar. Dialah Raden Ayu Lasminingrat yang lahir pada 1843.

Ketika terjadi peristiwa BLA (Bandung Lautan Api ) 24 Maret 1946, masyarakat Bandung banyak yang mengungsi ke Garut. Tetapi kemudian Garut pun menjadi sasaran penyerbuan tentara Belanda, karena komandan tertinggi Tentara di Jawa Barat, Kolonel AH Nasution terendus berada di daerah ini.

Dalam situasi demikian Lasminingrat pun dalam usia sudah sepuh, dibawa mengungsi keluarganya ke kampung Waas Pojok, Bayongbong, Garut. Ia merelakan rumah tinggalnya di Regenweg, kini jalan Siliwangi, ditempati sebagai Markas Tentara Republik Indonesia (TRI) dengan segala barang ada di dalamnya.

Lasminingrat, wafat dalam usia 105 tahun. Jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Agung Garut, disamping makam suaminya. Beliau isteri dari Bupati Kabupaten Limbangan, R.A.A Wiratanudatar VII. Seperti diketahui, Limbangan merupakan cikal bakal lahirnya Garut sekarang. ya, Lasminingrat merupakan isteri  Bupati Garut pertama.

R.A. Lasminingrat adalah satu-satunya perempuan Indonesia asal Garut yang mampu menulis dan berbahasa Belanda di jaman penjajahan itu. Posisi dirinya sangat menonjol sebagai seorang perempuan intelek.

Bisa kita bayangkan, tahun 1902 di seluruh Pulau Jawa dan Madura hanya ada empat orang Bupati yang pandai menulis dan berbicara dalam bahasa Belanda. Pertama Bupati Serang P. AA Achmad Djaya Diningrat, kedua Bupati Ngawi R.M. Tumenggung Kusumo Utoyo, ketiga Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat (paman dari R.A. Kartini)  dan keempat Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (bapaknya R.A. Kartini).

Lasminingrat usianya 36 tahun lebih tua dari RA Kartini, yang lahir 21 April 1879. Dan terpaut 41 tahun usianya dari Raden Dewi Sartika, yang lahir 4 Desember 1884. Sungguh usia yang layaknya seorang ibu dengan anaknya.

Kenapa Lasminingrat layak diangkat ke ranah publik? Karena bagaimana pun ia merupakan sosok seorang penggerak budaya literasi, sastrawati pertama di tanah air. Lasminingrat pun berperan pula  dalam pengembangan pendidikan bagi anak bumi putera. Ia seorang puteri dari Penghulu Besar (Hoofdpenghulu) Limbangan, Raden Haji Muhammad Musa dan Raden Ayu Ria.

Ayahnya merupakan keturunan bangsawan, putera Raden Rangga Suryadikusumah, Patih Kabupaten Limbangan. Yang menimba ilmu di sebuah pesantren di Purwakarta. Dan mengikuti ayahnya menunaikan ibadah haji pada usia muda. Ayah Lasminingrat ini menolak tawaran Pemerintah Hindi-Belanda untuk menjadi Ketua Gudang.

Muhammad Musa lebih suka memilih bidang keagamaan. Beliau menjadi penghulu, dan tahun 1864 diangkat menjadi Hoofdpenghulu di kabupaten Limbangan sampai beliau meninggal dunia. Kedekatannya dengan K.F.Holle penasehat urusan pribumi, pemilik Perkebunan Teh Waspada,  mempermudah pergaulan dengan bangsa Belanda.

Karena dianggap berjasa, Muhammad Musa dijanjikan mendapatkan jabatan tinggi hingga tujuh turunan. Karena kedekatannya ini, ayah Lasminingrat ini mendapatkan peluang mengembangkan bakat menulis dan mengarangnya. Bakatna ini menurun kepada putera-puterinya, yaitu Kartawinata dan Lasminingrat.

Nama Muhammad Musa bisa dijumpai dalam buku Ensiklopedia Sunda. Buku ini disusun Ajip Rosidi tahun 2000. Dan dari buku karya Mikihiro Moriyama, Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, kita bisa mengenal ayah Laminingrat ini terkenal dengan karya tulis sastranya.

Diantara karya sastranya yang terkenal adalah Wawacan Panji Wulung yang terbit tahun 1871. Selain karya lain sebelumnya, Wawacan Raja Sudibya, Wawacan Wulang Krama, Wawacan Dongéng-dongéng, Wawacan Wulang Tani.

Lasminingrat, puteri Muhammad Musa ini dalam catatan Sejarawan UNPAD, Prof.Dr.Hj. Nina Lubis, M.S.  ia memiliki adik Raden Ratnaningrum dan Nyi Raden Lenggangkencana. Ayahnya sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Dan menghendaki anak-anaknya yang sebanyak 17 orang –dari beberapa isteri–bisa sekolah di sekolah Belanda.

Waktu itu belum ada sekolah semacam milik Belanda di kota Garut. Maka ayah Lasminingrat ini mendirikan Sekolah Eropa (Bijondere Europeesche School) dan menggaji dua orang guru Eropa. Di sekolah ini anak orang Eropa (Belanda) bisa sekolah bersama-sama anak pribumi. Juga anak laki-laki dicampur dengan anak perempuan.

Tidak heran jika Lasminingrat fasih berbahasa Belanda. Ini membuat K.F.Holle memujinya dalam pernyataan suratnya kepada P.J. Veth, anak-anak perempuan penghulu yang menikah dengan Bupati Garut, menyadur dengan tepat cerita-cerita dongeng karangan Grimm, Cerita-cerita dari negeri Dongeng (oleh Goeverneur) dan cerita lainnya dalam bahasa Sunda (Moriyama, 2005:244).

Dalam usia 32 tahun, Lasminingrat pada tahun 1875 berhasil menerjemahkan karya Christoph von Schmidt, Hendrik van Eichenfels versi Belanda terjemahan dari bahasa Jerman tahun 1883. Judulnya menjadi Tjarita Erman yang ditulis dalam aksara Jawa dicetak 6.015 ekslemplar.  Kemudian tahun 1911 terbit edisi kedua, juga aksara Jawa.  Tahun 1922 terbit edisi ketiga dalam aksara Latin. (sumber: langitperempuan.com)

Ingat, saat itu empat tahun sebelum lahirnya RA Kartini.

Setahun kemudian (1876) Lasminingrat menulis buku Warnasari atawa Rupa-Rupa Dongeng yang diterjemahkan dari karya Maschen von Grimm dan J.A.A.Goeverneur, Vertelsels uit het Wonderland voor Kinderen, Kein en Groot(1872). Dan beberapa tulisana lainnya dalam aksara Jawa. Tahun 1903 dan 1907 terbit edisi dua dan tiga.

Tahun 1887 menulis Warnasari  Jilid 2 ditulis dalam aksara Latin,  selanjutnya dicetak edisi kedua tahun 1909.Kalau dicermati, sungguh menakjubkan. Mengapa? Karya tulis terjemahannya dicetak cukup besar untuk zamannya. Sebagian besar penerbit buku masa kini menecetak buku pada kisaran 2000-3000 ekslemplar untuk terbitan pertama.

Artinya buku-bukunya banyak dibaca orang alias karyanya laku keras. Sedangkan pada waktu itu masyarakat pribumi masih banyak yang buta huruf.  Begitu menakjubkan. Kenapa? Karena karya-karya Lasminingrat mengalami cetak ulang berkali-kali.

Bakat menulis Lasminingrat diperoleh dari ayahnya yang sastrawan Sunda. Lasminingrat merupakan  pengarang wanita Sunda pertama, dengan menggunakan kata ganti orang pertama. Hal ini menunjukan ia sebagai orang fasih menguasai bahasa Belanda, karena dekat dengan orang Belanda. Tetapi ia bisa menunjukan integritas  sebagai pribadi intelektual. Sekaligus kepeloporannya dalam dunia sastra.

Mengembangkan Pendidikan

Menjelang masa akhir jabatan suaminya sebagai Bupati, pada tahun 1907 Lasminingrat meningkatkan perhatiannya pada bidang pendidikan. Ia membuka Sekolah Kautamaan Isteri tahun 1907 dengan mengambil tempat di Gedung yeng merupakan Ruang Gamelan sebelah timur Pendopo.

Moriyama menulis, Lasminingrat lalu berkonsentrasi di bidang pendidikan bagi kaum perempuan Sunda (Moriyama, 2005: 243). Karena sejak kecil Lasminingrat sudah bercita-cita memajukan kaum perempuan melalui pendidikan. Empat tahun kemudian sekolahnya berkembang dengan memiliki murid mencapai 200 orang.

Kemudian lima kelas dibangun di sebelah pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913. Gedung Sekolah ini  dalam perkembanganya di zaman Jepang menjadi Sekolah Rakyat.Kemudian tahun 1950 berganti nama menjadi SD

Kemudian seiring pergantian nama Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut tahun 1913 dan pensiunnya R.A.A Wiratanudatar VIII (1871-1913).  Raden Lasminingrat pindah dari pendopo.

Lasminingrat pindah ke sebuah rumah di Regenweg (kini Jalan Siliwangi). Rumah yang besar ini, sekarang menjadi bangunan Yogya Departemen Store. Hingga usia 80 tahun Lasminingrat  masih aktif berkiprah, meskipun tidak langsung dalam dunia pendidikan.

Di Sekolah Kautamaan Istri, murid-muridnya diajari beragam keterampilan seperti cara memasak, merapihkan pakaian, mencuci, menjahit pakaian dan segala hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Pelajaran ini dimaksudkan untuk menjadi bekal kelak saat dewasa dan menikah.

Supaya kaum perempuan bisa membahagiakan suami dan anaknya, dengan cara mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tangganya.

Dalam soal pendidikan dan kepedulian, Lasminingrat ternyata memiliki peranan untuk mewujudkan cita-cita tokoh perempuan lainnya. Raden Dewi Sartika yang kesulitan mendirikan sekolah bagi kaum perempuan pada tahun 1904.

Kesulitan Raden Dewi karena Bupati Bandung RAA Martanegara yang tidak memberi izin. Penolakan itu karena latar belakang Raden Dewi Sartika merupakan anak seorang yang dianggap pemberontak terhadap Bupati Bandung. Catatan sejarawan Nina Lubis dalam bukunya Kehidupan Kaum Menak Priangan, Dewi Sartika adalah anak musuh politik Bupati Bandung.

Dalam hal ini Raden Ayu Lasminingrat turun tangan. Ia memberi masukan supaya mengabulkan cita-cita Dewi Sartika. Dan Bupati Bandung RAA Martanegara pun kemudian mengabulkannya. Awal tahun 1904 Dewi Sartika mendirikan Sekolah Istri.

Dan sepuluh tahun kemudian (1914), Sekolahnya berganti nama menjadi Sekolah Kautamaan Istri. Rasa-rasanya mirip namanya dengan nama Sekolah Kautamaan Istri yang didirikan Lasminingrat tahun 1907.

Apakah ini ada keterkaitan? Kalau pun ya, ada wajar saja. Karena keduanya saling mengenal. Bahkan konon Lasminingrat dan Dewi Sartika sering kali berhubungan seperti seorang ibu dengan anaknya. Untuk apa? tak lain untuk saling mendukung untuk memajukan kaum perempuan.

Nah, Kartini diperingati sebagai tokoh Emansipasi Wanita. Begitu pun Dewi Sartika diperingati pula karena kiprahnya dalam pendidikan Sekolah Perempuan di tatar Pasundan. Lalu bagaimana dengan Raden Ayu Lasminingrat?

Namanya masih sayup-sayup saja. Kalau Kartini dijadikan icon sebagai pahlawan emansipasi. Juga Dewi Sartika pun telah diangkat jadi pahlawan pula.

Tetapi Raden Ayu Lasminingrat? Tidak, ataukah belum.

Selayaknya pula ia ditempatkan sebagai tokoh Perintis budaya literasi kaum perempuan Indonesia. Jasanya dalam mengembangkan pendidikan jelas adanya. Dunia kepengarangan dan penerjemahan karya sastra di zamannya. Serta pula mengembangkan pendidikan berupa Sekolah bagi kaum perempuan jelas buktinya.

Tulisan ini disajikan untuk mengenang 66 tahun wafatnya Raden Ayu Lasminingrat (1843-1948). Sekaligus sebagai apresiasi saya atas tulisan seorang cicitnya, keturunannya yang keenam yang juga seorang blogger, Oky Lasmini.

sumber bacaan:

1. Mikihiro Moriyama. 2005. Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19. Jakarta:  KPG.

2. Ajip Rosidi. 2000. Ensiklopedia Sunda. 2000. Pustaka Jaya, Jakarta.

3. Wikipedia.com

4.www.inilahgarut.com

5.sejarah.kompasiana.com